Jumat, 01 Januari 2010

MUTIARA HAKEKAT SHALAT


Allah SWT berfirman: "Aku membagi shalat menjadi dua bagian, yaitu hubungan antara Aku dan hamba-Ku, dan permohonan hamba-Ku." Sehingga ketika seorang hamba membaca: "AlhamdulillaHhi rabbil 'aalamiin", maka Allah SWT berfirman: "Hamba-Ku telah memuji kebesaran-Ku". Dan ketika ia membaca: "Ar rahmaanir rahiim", maka Allah SWT berfirman: "Hamba-Ku telah memuji kebaikan-Ku. Dan ketika ia membaca: "Maaliki yaumiddiin", maka Allah SWT berfirman: "Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku." Dan ketika ia membaca: "Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin", maka Allah SWT berfirman: "Inilah hubungan antara Aku dan hamba-Ku, dan baginya apa yang ia minta". Dan ketika ia membaca: "IHhdinash shiraathal mustaqiim, shiraathalladziina an'amta 'alaiHhim ghairil maghdhuubi 'alaiHhim wa laddhaalliin", maka Allah SWT berfirman: "Inilah untuk hamba-Ku dan baginya apa yang ia minta." [H.R. Muslim dari Sayyidina Abu Hurairah RA].

Dalam sebagian  riwayat dijelaskan: “Sesungguhnya orang mukmin ketika ber-wudlu' untuk mengerjakan shalat, maka setan di seluruh belahan bumi akan menjauh karena takut kepadanya, sebab ia bersiap-siap bersimpuh di hadapan Allah Dzat Yang Maha Merajai. Ketika ia bertakbir, maka setan terdinding darinya." Dalam sebagian riwayat diceritakan: “Pada saat itu, antara dia dan setan terdapat penghalang, sehingga setan tidak dapat melihatnya. Dan tampaklah di depannya keperkasaan Allah Dzat Yang Maha Perkasa. Ketika ia mengucapkan : "AllaHhu Akbar", maka Allah SWT akan melihat di dalam hatinya. Jika di dalam hatinya tidak ada yang lebih besar kecuali Kebesaran dan Keagungan Allah SWT, maka Allah SWT berfirman: "Kamu benar, Allah memang berada di dalam hatimu sebagaimana yang kamu ucapkan." Dan dari hatinya terpancarlah nur-cahaya yang menembus ke alam kerajaan ‘Arasy. Dan dengan nur-cahaya itu menjadi terbukalah tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah yang terdapat di langit dan di bumi. Dan ditengah nur-cahaya itu tercatatlah kebaikan-kebaikan dirinya.

Sedangkan orang bodoh yang lalai ketika hendak melakukan shalat, maka ia akan dikerumuni setan, sebagaimana tetesan madu dikerumuni lalat-lalat. Ketika ia bertakbir, Allah SWT melihat di dalam hatinya. Jika di dalam hatinya terdapat sesuatu yang lebih besar dari pada Kebesaran dan Keagungan Allah SWT, maka Allah SWT berfirman kepadanya: "Kamu berdusta, di hatimu yang terbesar bukanlah Aku Yang  Maha Besar Lagi Maha Agung, sebagaimana yang kamu ucapkan." Dan dari hatinya muncul luapan asap yang sampai ke langit awan, sehingga hatinya tertutup, ia tidak dapat melihat Alam Malakut. Sehingga dengan keterdindingan itu hatinya bertambah keras dan setan selalu membisiki, meniup, mengganggu dan menghiasi dengan segala tipu daya ke dalam hatinya, sehingga selepas shalat ia tidak memahami hakekat kandungan makna dalam shalat.

Hati yang jernih, disertai  dengan kesempurnaan  adab lahir dan bathin akan menembus sampai ke langit. Ketika takbir menghantarkannya hingga sampai ke langit sebagai pembuka shalat, dan Allah SWT selalu menjaganya dari gangguan setan. Dan tidak ada jalan bagi setan untuk mengganggu hati yang telah menembus langit. Ketika itu yang ada hanyalah bisikan-bisikan jiwa yang tidak akan putus, sebab adanya penjagaan pada langit. Sedangkan pengaruh dan pengaturan setan itu akan terputus.

Hati yang dikehendaki untuk dekat bersimpuh di sisi Allah SWT akan semakin tambah meningkat kedekatannya dengan pendekatan dan pendakian ke lapisan-lapisan langit, bahkan dalam setiap lapisan langit akan ditinggalkan suatu ketaatan yang berbau sedikit kepentingan nafsu. Dengan ukuran semacam ini bisikan hati akan semakin berkurang, sehingga dapat melewati lapisan-lapisan langit dan dapat bersimpuh di depan Arasy. Pada waktu itulah bisikan hati menjadi sirna secara keseluruhan disebabkan oleh pancaran nur-cahaya dari Arasy. Dan gelapnya hawa nafsu larut dan lebur ke dalam nur-cahaya hati, sebagaimana larut dan leburnya gelapnya malam di waktu siang hari. Dengan demikian, ia telah menunaikan kewajiban-kewajiban beradab secara benar.

Ketahuilah, bahwa Allah SWT telah berfirman:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ. [البقرة/45]

"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'." [Al-Baqarah: 45 ].

Diriwayatkan dari Sayyidina Ibnu Abas RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: "Ketika Allah SWT menciptakan surga 'Adn, maka di dalam surga tersebut Allah SWT menciptakan sesuatu yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga dan tidak pernah terbesit dalam hati manusia. Kemudian Allah SWT berfirman kepadanya: "Bicaralah !..." Maka surga 'Adn itu berbicara: "Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya."

Dalam riwayat lain: "Allah SWT menciptakan surga 'Adn dengan kekuasaan-Nya, dan mendekatkan buah-buahan di dalamnya serta mengalirkan sungai-sungainya. Kemudian Allah SWT melihatnya seraya berfirman kepadanya: Bicaralah !...". Maka surga 'Adn itu berbicara: "Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman". Kemudian Allah SWT berfirman: "Demi kemuliyaan-Ku, orang-orang yang kikir tidak akan berdampingan denganmu." [H.R. Imam Thabrani dalam kitab Mu'jam Ausath dan Mu'jam Kabir. Salah satu dari kedua sanadnya adalah jayyid].

Diriwayatkan dari Sayyidina Umar RA, ia berkata: "Seorang laki-laki datang, lalu berkata kepada Rasulullah SAW: "Apa yang paling dicintai oleh Allah SAW dalam agama Islam ini?." Beliau menjawab: "Melakukan shalat tepat pada waktunya. Barangsiapa meninggalkan shalat, maka agama tidak sempurna baginya, karena shalat adalah tiang agama." [H.R. Imam Baihaqi dalam kitab Syu'ab al-Iman dinuqil dari Syarah Muwattha']. Diriwayatkan dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA berupa Hadits Marfu': "Shalat adalah tiang agama, dan jihad adalah  pokok amal perbuatan, sedangkan zakat itu di antara keduanya." [H.R. Imam Thabrani dan Imam al-Dailami]. Diriwayatkan dari Sayyidina Bilal bin Yahya RA, ia berkata: "Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW untuk bertanya tentang shalat. Kemudian Beliau SAW bersabda: "Shalat adalah tiang agama." [H.R. Abu Nu'aim al-Asbihany, hadits ini adalah Hadits Mursal dan perawinya dapat dipercaya]. Diriwayatkan dari Sayyidina Mu'adz bin Jabal RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Pokok semua urusan adalah Islam. Barang siapa beragama Islam, maka ia akan selamat. Tiang agama Islam adalah shalat dan titik puncaknya adalah jihad. Dan tiada yang dapat meraih jihad kecuali orang pilihan yang utama." [H.R. Imam Thabrani].

Shalat merupakan pembuktian sifat kehambaan dan untuk menunaikan hak ketuhanan. Semua ibadah merupakan perantara untuk mewujudkan sirri-rahasia shalat secara nyata. Di samping itu, shalat merupakan ikatan dan jalinan seorang hamba dengan tuhannya, dan tentunya sudah merupakan kewajiban bagi seorang hamba untuk tunduk, patuh, khusyu', menghinakan serta merendahkan dirinya di hadapan  kebesaran, keagungan dan kekuasaan tuhannya.

Sebagian ulama berkata: "Jika Allah SAW menampakkan kekuasaan dan keagungan-Nya kepada sesuatu, maka sesuatu itu akan tunduk kepada-Nya. Dan barang siapa yang dapat mewujudkan hubungannya dengan Allah SWT secara nyata dalam shalat, maka akan nampak keagungan dan kebesaran Allah SAW, sehingga ia menjadi khusyu'."

Sungguh beruntung orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya, karena ketidak khusyu'an seseorang akan melenyapkan keberuntungan tersebut, sebagaimana penjelasan dalam ayat di atas. Allah SAW berfirman:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي. [طه/14]

"Dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku". [Q.S. Thaahaa: 14].

Jika shalat adalah untuk mengingat Allah SAW, maka bagaimana mungkin ia bisa lupa dalam shalatnya? Allah SWT berfirman:

لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ. [النساء/43]

"Janganlah kamu shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan." [Q.S. An Nisaa': 43].

Barangsiapa berkata, akan tetapi ia tidak mengetahui apa yang ia ucapkan, maka bagaimana ia dianggap sebagai orang yang shalat?, padahal Allah SWT telah melarang yang demikian itu. Orang yang mabuk akan mengatakan sesuatu tanpa menggunakan akalnya (di luar kesadarannya). Begitu juga orang yang lalai, ia akan shalat tanpa menggunakan akal fikirannya, sehingga ia sama dengan orang yang mabuk.

Di antara tokoh Tashawuf ada seorang tokoh ketika menghadap kepada Allah SWT dalam shalat dapat mewujudkan secara nyata hakekat makna kembali bertaubat kepada Allah SWT, karena Allah SWT sangat mengutamakan kembali bertaubat kepada-Nya. Allah SWT berfirman: 

مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ. [الروم/31]

"Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat " [Q.S. Ar Ruum: 31].

Maka ia kembali bertaubat kepada Allah SWT dan bertakwa kepada-Nya dengan melepaskan segala sesuatu selain-Nya. Ia mendirikan shalat dengan hati yang lapang disertai ketundukan hati, dan hati yang terbuka disebabkan nur-cahaya keimanan. Maka keluarlah kalimat al-Qur'an dari lisannya, terus merasuk ke dalam hati dengan gambaran ia dapat ber-musyahadah dan hatinya dapat mendengar sehingga ia seperti langsung mendengar dari Allah SWT, atau seakan-akan ia membaca di hadapan Allah SWT. Ketika itulah kalimat al-Qur'an singgah dalam keluasan dan kelapangan hati tanpa suatu apapun selain kalimat itu. Maka hatipun akan dapat menerima kalimat al-Qur'an dengan kepahaman yang baik dan kelezatan nikmat memperhatikan al-Qur'an. Ia akan menghayati dan meresapinya dengan manisnya mendengar dan kesempurnaan memahami, serta akan menemukan kelembutan dan kemulian hakikat makna dan kandungannya, yakni hakikat makna-makna yang sangat lembut dan halus yang tidak bisa diperinci dan digambarkan oleh akal yang cerdas dan jenius. Sehingga hakeat makna-makna yang tersurat dalam al-Qur'an akan menjadi makanan yang dapat menguatkan jiwa.

Oleh karena itu, di dalam jiwa yang tenang dan tentram akan selalu tampak bisikan-bisikan hakekat makna-makna al-Qur'an, karena bisikan-bisikan hakekat makna-makna al-Qur'an itu adalah makna-makna yang tersurat yang dapat menuju kepada Alam Hikmah dan Alam Syahadah (sesuatu yang terlihat nyata) yang memiliki hubungan dekat dengan jiwa yang terbentuk untuk menancapkan keindahan hikmah.

Sedangkan hakekat makna-makna al-Qur'an yang tersirat, yakni makna-makna yang dapat membuka Alam Malaikat, akan menjadi penguat hati dan kejernihan ruh yang suci, dan akan sampai kepada pilar-pilar Alam Jabarut seraya menyaksikan kebesaran, keagungan, kemuliaan dan keindahan Allah SWT. Dengan bentuk penyaksian ini, ia tenggelam dalam kesempurnaan samudera kerinduan. Hal inilah sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Sayyid Syaikh Muslim bin Yasar RA, bahwa ia melakukan shalat di masjid kota Bashrah, lalu ada tiang jatuh hingga bunyinya terdengar oleh orang-orang yang berada di pasar, sementara ia masih berdiri dalam shalat tanpa mengetahui apa yang telah terjadi.

Jika seorang hamba mempunyai adab dan etika shalat, maka sebelum masuk waktu shalat ia seakan-akan sudah dalam keadaan shalat, sehingga keadaan berdiri menjelang shalat adalah merupakan suatu keadaan diri yang telah menyatu dengan shalatnya. Sebab di antara adab-adab yang dilakukan kaum Shufiyah sebelum mereka melakukan shalat adalah muraqabah (menundukkan hati dengan perasan selalu merasa diawasi dan dipantau oleh Allah SWT), selalu menjaga hati dari bisikan-bisikan dan hal-hal baru yang mengganggu, meniadakan segala sesuatu selain Allah SWT, atau selain mengingat-Nya. Ketika mereka berdiri untuk melakukan shalat dengan hati yang hadir di sisi Allah SWT seakan-akan ia berdiri dari satu shalat menuju shalat yang lain. Mereka selalu bersama niat dan ikatan hati dengan Allah SWT yang dengan keduanya mereka masuk dalam shalat. Ketika mereka keluar dari shalat mereka kembali pada keadaan mereka dengan hati yang selalu hadir di sisi Allah SWT yang selalu menjaga dan mengawasinya, sehingga seakan-akan selalu dalam keadaan shalat, sekalipun mereka tidak sedang shalat. Inilah adab shalat mereka.

Diriwayatkan dari Sayyidina Abi Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Seorang hamba akan selalu dalam (pahala) shalat, selama shalat itu menahan dirinya (yakni ia dalam keadaan menunggu shalat) ." (H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim). Diriwayatkan dari Sayyidina Anas RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Manusia melakukan shalat lalu mereka tidur, sedangkan kalian semua selalu dalam (pahala) shalat sejak kalian menunggunya.” [H.R. Imam Bukhari]. 

Senin, 30 November 2009

HADITS DLAIF

 

A.      Definisi

Secara etimologi kata dlaif mempunyai makna kebalikan dari kuat (dliddul qawi). Sedangkan secara terminologi adalah hadits yang di dalamnya tidak terkumpul sifat-sifat hadits qabul[1] dengan tidak terpenuhinya salah satu syarat dari beberapa syarat hadits qabul.[2] Dalam Alfiyahnya, Imam Suyuthi mengatakan:

هُوَ الَّذِي عَنْ صِفَةِ الحُسْنِ خَلا # وَهْوَ عَلَى مَرَاتِبٍ قَدْ جُعِلا

"Hadits dlaif adalah hadits yang sepi dari sifat hasan. Hadits dlaif terbagi menjadi beberapa tingkatan."[3]

Sifat hasan[4] tersebut ada enam, yaitu sanadnya bersambung, para perawi yang adil ('adalatur ruwat), para perawi yang dlabit (dlabtur ruwat), adanya mutaba'ah (penguat eksternal) pada rawi yang mastur (tidak diketahui biografinya), tidak syadz ('adamus syudzudz) dan tidak terdapat illat ('adamul 'illat).[5]

Hadits dlaif juga disebut sebagai hadits mardud (tertolak), karena hadits tersebut tidak bisa dijadikan hujjah dalam penetapan hukum syar'iyyah.[6]

 

B.     Macam-macam Hadits Dlaif

Hadits dlaif terbagi menjadi sangat banyak sekali. Para ulama berbeda pendapat dalam mengklasifikasikan hadits dlaif. Abu Hatim Ibnu Hibban mengklasifikasikan hadits dlaif menjadi 49 macam.[7] Sementara al-Hafidz al-Iraqi membaginya menjadi 42 macam[8], dan sebagian ulama yang lain ada yang mengklasifikasikannya menjadi 81, 129[9], bahkan hingga mencapai 381 macam.[10] Namun menurut Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki pembagian tersebut tidaklah memberikan faedah yang besar. Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan bahwa pembagian tersebut sangat melelahkan (bersusah payah) dan tidak ada kebutuhan di balik semua itu. Para ulama yang berbeda pendapat dalam mengklasifikasikan hadits dlaif tidak memberi nama tertentu bagi msing-masing klasifikasi itu kecuali hanya sedikit saja. Mereka juga tidak mengkhususkan nama tertentu dari hadits-hadits yang dlaif tersebut.[11]

 

C.      Status Kehujjahan

Para ulama berbeda pendapat mengenai status kehujjahan hadits dlaif;

1.      Kelompok pertama

Mereka adalah kalangan yang secara mutlak menolak mentah-mentah semua hadits dhaif. Bagi mereka hadits dhaif itu sama sekali tidak dapat dipakai untuk apapun saja. Baik masalah keutamaan (fadhilah), nasehat atau peringatan. Apalagi dalam masalah hukum dan aqidah, tidak ada tempat untuk hadits dhaif menurut mereka. Pendapat ini disampaikan oleh Ibnu Sayyidin Nas dari Yahya bin Ma'in. Pendapat ini kemudian diikuti oleh Imam Abu Bakar bin al-Arabi. Pendapat ini juga yang dipakai oleh Imam Bukhari, Muslim dan Ibnu Hazm.[12]

2.      Kelompok kedua

Mereka adalah kalangan yang menerima hadits dhaif dengan syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat tersebut ada enam. Empat di antaranya telah disepakati oleh para ulama. Syarat kelima sebagai penjelas dan oleh sebagian ulama ditinggalkan. Sedangkan syarat keenam diperselisihkan, menurut pendapat yang arjah tidak termasuk dalam syarat-syarat tersebut.[13]

Syarat-syarat tersebut adalah :

a.       Hadits dhaif tersebut hanya seputar masalah nasehat, kisah-kisah, atau anjuran amal tambahan (fadlailul a'mal). Bukan dalam masalah aqidah dan sifat Allah, juga bukan masalah hukum.

b.      Hadits itu tidak terlalu parah kedhaifannya. Sedangkan hadits dhaif yang perawinya sampai ke tingkat pendusta atau tertuduh sebagai pendusta atau parah kerancuan hafalannya maka hadits dhaif semacam itu tidak diterima.

c.       Hadits dhaif tersebut berada di bawah kaidah dasar umum yang diamalkan.

d.      Ketika mengamalkan jangan disertai keyakinan tsubutnya (tetapnya) hadits itu, melainkan hanya sekedar hati-hati.

e.       Tidak bertentangan dengan hadits shahih.

f.       Tidak meyakini kesunahannya.

3.      Kelompok ketiga

Mereka adalah kalangan yang mau menerima hadits dhaif secara bulat, asal bukan hadits palsu (maudlu’). Pendapat ini dinisbatkan kepada Imam Abu Dawud dan Imam Ahmad RA Karena bagi kalangan ini selemah-lemahnya hadits, tetap saja lebih tinggi derajatnya dari pendapat manusia.[14]

Dari ketiga kelompok di atas menurut Dr. Muhammad Ajaj al-Khathib yang paling selamat adalah kelompok pertama.[15] Namun menurut penulis pendapat yang paling tepat adalah pendapat yang kedua sebagaimana yang telah disepakati oleh mayoritas ulama.[16] Kelompok pertama yang mengatakan bahwa hadits dlaif tidak bisa diamalkan secara muthlak, maksudnya adalah hadits dlaif yang amat sangat lemah sehingga gugur dari derajat ihtijaj dan I'tibar.[17] Sedangkan yang dimaksud hadits dlaif yang bisa diamalkan oleh kelompok ketiga adalah hadits-hadits yang jalurnya banyak dan para perawinya tidak ada yang tertuduh sebagai pembohong dan syadz, atau yang oleh Imam Tirmidzi disebut sebagai hadits hasan. Karena menurut kelompok ini (Imam Ahmad) hadits dlaif terbagai menjadi dua; dlaif yang matruk (ditinggalkan) dan dlaif yang hasan. Dan hadits-hadits ini (hasan menurut istilahnya Imam Tirmidzi) oleh Imam Ahmad dikatakan sebagai dlaif dan bisa dijadikkan sebagai hujjah.[18]

Jadi, menurut kami antara kelompok pertama dan kelompok ketiga tidaklah terjadi perbedaan, karena term hadits dlaif yang dipakai oleh kedua kelompok tersebut tidaklah sama pengertiannya.

 

D.      Hubungan Dengan Hadits Maudlu'

Hadits maudlu' adalah hadits yang dibuat-buat dan kemudian dinisbatkan bahwa itu adalah sabda, perbuatan atau ketetapan Nabi SAW, padahal Nabi SAW tidak pernah melakukan itu.[19] Hadits maudlu' merupakan hadits dlaif yang paling buruk. Sebagian ulama menganggap bahwa hadits maudlu' bukan bagian dari hadits dlaif, tapi merupakan bagian tersendiri dalam klasifikasi hadits.[20]

 

E.       Kitab-kitab Yang Memuat Hadits Dlaif.

Ada tiga klasifikasi kitab-kitab yang memuat hadits dlaif;

1.      Kitab-kitab yang ditulis dalam rangka menjelaskan hadits-hadits dlaif (di dalamnya hanya terdapat hadits dlaif) seperti kitab al-Dlu'afa' al-Kabir yang ditulis oleh Imam al-Uqaili.

2.      Kitab-kitab yang berisi khusus macam-macam hadits dlaif, seperti kitab al-Marasil yang ditulis oleh Imam Abu Dawud dan kitab al-Ilal yang ditulis oleh Imam al-Daruquthni.

3.      Kitab-kitab yang di dalamnya berisi berbagai macam hadits, baik shahih, hasan maupun dlaif, seperti kitab sunan yang empat (Sunan Abi Dawud, Sunan al-Tirmidzi, Sunan al-Nasa'i dan Sunan Ibnu Majah)[21], Musnad Imam Ahmad[22] dan masih banyak lagi yang lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Ishaqy, Hadlratus Syeikh Ahmad Asrori RA, al-Muntakhabat fi Rabithat al-Qalbiyah wa Shilat al-ruhiyah. Surabaya: Al-Khidmah, 2007.

Al-Iraqi, Zainuddin Abdirrahman bin al-Husain. al-Taqyid wa al-Idlah Syarh Muqaddimah Ibnu Shalah. Madinah: Maktabah al-Salafiyah, 1969.

---------, Fath al-Mughits. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 2001.

Al-Khathib, Ajaj. Ushul al-Hadits. Beirut: Dar al-Fikr, 2006.

Al-Maliki, Sayiyid Alwi. al-Manhal al-Lathif fi Ahkam al-Hadits al-Dlaif.

Al-Maliki, Muhammad bin Alwi. al-Manhal al-Lathif. Madinah: Maktabah al-Malik Fahd, 2000.

Al-Suyuthi, Alfiyah al-Suyuthi.

--------------, Tadrib al-Rawi. Riyadh: Maktabah al-Riyadh al-Haditsah.

Al-Thahan, Mahmud. Taysir Musthalah al-Hadits, t.t.

Masyath, Hasan Muhammad. al-Taqrirat al-Saniyah. Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, 1996.   

Shalah, Ibnu. Muqaddimah Ibnu Shalah. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 2006.

Syuhbah, Abu. al-Wasit.

Soft Ware al-Maktabah al-Syamilah al-Isdar al-Tsani

Taimiyah, Ibnu. Majmu' Fatawi.

 

 

 



[1] Muhammad bin Alwi al-Maliki, al-Manhal al-Lathif, 66.

[2]Ajaj al-Khathib, Ushul al-Hadits. Beirut: Dar al-Fikr, 2006, 222. Ibnu Shalah, Muqaddimah Ibnu Shalah. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 2006, 65. Mahmud al-Thahan, Taysir Musthalah al-Hadits, 52.

[3] Al-Suyuthi, Alfiyah al-Suyuthi, 1/8.

[4] Dalam redaksi lain menggunakan kata qabul sebagai pengganti hasan, sebagaimana dalam Tadrib al-Rawi, 1/179.

[5] Al-Suyuthi, Tadrib al-Rawi. Riyadh: Maktabah al-Riyadh al-Haditsah, 1/179. Zainuddin Abdirrahman bin al-Husain al-Iraqi, al-Taqyid wa al-Idlah Syarh Muqaddimah Ibnu Shalah. Madinah: Maktabah al-Salafiyah, 1969, 63.

[6] Hasan Muhammad Masyath, al-Taqrirat al-Saniyah. Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, 1996, 16.   

[7] Ibnu Shalah, 65.

[8] Al-Iraqi, Fath al-Mughits. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 2001, 67. Muhammad bin Alwi, 66.

[9] Al-Suyuthi, Tadrib al-Rawi: 1/179.

[10] Abu Syuhbah, al-Wasit, 276. (dalam foot note Muqaddimah Ibnu Shalah, 65).

[11] Muhammad bin Alwi, 67.

[12] Ajaj al-Khathib, 231.

[13] Hadlratus Syeikh Ahmad Asrari al-Ishaqy RA, al-Muntakhabat fi Rabithat al-Qalbiyah wa Shilat al-ruhiyah. Surabaya: Al-Khidmah, 2007, 1/483.

[14] Ajaj al-Khathib, 232.

[15] Ibid.

[16] Mahmud, 54.

[17] Sayiyid Alwi al-Maliki, al-Manhal al-Lathif fi Ahkam al-Hadits al-Dlaif, 13.

[18] Ibnu Taimiyah, Majmu' Fatawi, 1/76.

[19] Ajaj, 275, al-Iraqi, 131, Muhammad bin Alwi, 147 dan Mahmud Thahan, Taysir Musthalah al-Hadits, 75.

[20] Mahmud, 75.

[21] Ajaj, 210.

[22] Ibid., 215.

Kamis, 26 November 2009

Doa-Doa Anggota Wudlu'


Ketika sedang berwudlu', kadang-kadang kita mendengar sebagian teman kita membaca doa-doa atau dzikir tertentu ketika membasuh atau mengusap anggota wudlu'. Yang menjadi pertanyaan kita, apakah doa-doa itu disunnahkan?

Untuk menjawab pertanyaan seperti ini, lebih dulu kita harus mengetahui beberapa hal berikut ini:

1.    Bahwa orang yang berwudlu', dan ketika wudlu' tidak berdzikir kepada Allah SWT, wudlu'nya tetap dianggap sah. Begitu juga seseorang yang berwudlu, ketika berwudlu' berbicara tentang urusan dunia, wudlu'nya juga tetap sah.

2.    Akan tetapi mana yang lebih baik ketika kita wudlu', diam atau berdzikir kepada Allah? Sekelompok ulama mengatakan bahwa diam ketika wudlu' adalah lebih baik. Itu karena mengikuti terhadap apa yang dikerjakan oleh Nabi SAW. Sekelompok ulama yang lain mengatakan bahwa yang lebih utama adalah berdzikir. Hal ini berdasarkan keumuman perintah untuk berdzikir kapanpun dan dimanapun, juga karena tidak ada larangan dalam masalah itu.

Perbedaan pendapat dalam masalah ini sebenarnya muncul dari pemahaman hadits "Barang siapa membuat hal baru dalam urusan (agama) kami yang bukan bagian dari agama, maka tidak diterima." (H.R. Bukhari Muslim).

Kelompok yang berpendapat bahwa diam lebih baik mengatakan bahwa mengucapkan dzikir pada anggota-anggota wudlu dianggap sebagai perbuatan yang mengada-ada dalam agama. Sedangkan kelompok yang berpendapat bahwa berdzikir lebih baik mengatakan bahwa dzikir merupakan hal yang dianjurkan secara umum, tanpa dibatasi dengan zaman atau tempat, sebagaimana firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا. وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا.  [الأحزاب/41، 42]

"Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang." (Q.S. al-Ahzab: 41-42).  

Dzikir ketika membasuh atau mengusap anggota wudlu' di tengah-tengah wudlu' termasuk ke dalam perintah ayat tersebut yang bersifat umum dan bukan melakukan sesuatu yang mengada-ada dalam agama. Memang doa-doa tersebut tidak terdapat dalam hadits-hadits Nabi, akan tetapi Imam Nawawi dalam kitabnya al-Adzkar menulis: "Para Ahli Fiqh berkata: "Disunnahkan ketika wudlu' untuk membaca doa-doa yang datang dari ulama salaf." Imam al-Adzra'i berkata: "Hendaknya doa-doa itu tidaklah ditinggalkan, tapi juga hendaknya tidak diyakini sebagai sunnah, karena tidak ada hadits yang menetapkan doa-doa itu."

Doa-doa tersebut adalah sebagai berikut:

1.    Setelah basmalah membaca:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِىْ جَعَلَ الْمَاءَ طَهُوْرًا.

"Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan air sebagai sesuatu yang mensucikan."

2.    Ketika berkumur membaca:

اَللَّهُمَّ اسْقِنِىْ مِنْ حَوْضِ نَبِيِّكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَأْسًا لاَ أَظْمَأُ بَعَدَهُ أَبَدًا.

"Ya Allah, berilah aku minum dari telaga Nabi-Mu SAW dengan gelas yang menyebabkan aku tidak merasa haus lagi selamanya."

3.    Ketika istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung) membaca:

اَللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنِىْ رَائِحَةَ نَعِيْمِكَ وَجَنَّاتِكَ.

"Ya Allah, janganlah Engkau haramkan bagiku aroma kenikmatan dan surga-Mu."

4.    Ketika membasuh wajah membaca:

اَللَّهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِىْ يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوْهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوْهٌ.

"Ya Allah, putihkanlah wajahku pada hari (kiamat) ketika Engkau memutihkan wajah-wajah (orang-orang yang beriman) dan menghitamkan wajah-wajah (orang-orang kafir)."

5.    Ketika membasuh kedua tangan membaca:

اَللَّهُمَّ أَعْطِنِىْ كِتَابِىْ بِيَمِيْنِىْ وَحَاسِبْنِىْ حِسَابًا يَسِيْرًا، اَللَّهُمَّ لاَ تُعْطِنِىْ كِتَابِىْ بِشِمَالِىْ وَلاَ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِىْ.

"Ya Allah, berikanlah kitabku dengan tangan kananku dan hisablah aku dengan hisab yang mudah. Ya Allah, janganlah Engkau berikan kitabku dengan tangan kiriku dan jangan dari belakang punggungku."

6.    Ketika mengusap sebagian kepala membaca:

اَللَّهُمَّ حَرِّمْ شَعْرِىْ وَبَشَرِىْ عَلَى النَّار.

"Ya Allah, lindungilah rambut dan kulitku dari api neraka."

7.    Ketika mengusap kedua telinga membaca:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِىْ مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتْبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ.

"Ya Allah, jadikanlah aku sebagai orang-orang yang mendengarkan perkataan (yang baik) dan mengikuti kebaikan perkataan itu."

8.    Ketika membasuh kedua kaki membaca:

اَللَّهُمَّ ثَبِّتْ قَدَمَيَّ عَلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ.

"Ya Allah, tetapkanlah kedua telapak kakiku di atas jalan yang lurus."

Doa-doa di atas tidak masalah untuk diamalkan, walaupun tidak terdapat dalam hadits-hadits Nabi SAW, karena doa-doa tersebut termasuk dalam perintah umum untuk berdzikir kepada Allah SWT dan tidak ada dalil yang melarangnya. (Disarikan dari Fatawi al-Azhar oleh Syeikh Athiyyah Shaqr)